Pagi itu, seperti biasa, aku beres-beres rumah setelah ngurusin anak-anak. Handphone bututku berbunyi dengan suaranya yang nyaring dan jelek, ada panggilan masuk.
"Hallo," agak bersemangat, karena ternyata itu dari Penerbit yang menerbitkan bukuku. Judulnya? "Cairan Cinta" yang bercerita tentang seorang perempuan yang harus kehilangan bayinya kemudian disusul kehilangan suami dan keluarganya yang lain. Dramatis banget pokoknya.
"Mbak Liza? Alhamdulillah, bukunya sudah habis dalam 3 bulan ini. Siang ini kami transfer ya," jawab orang yang diseberang sana.
Amazing! Bukuku dalam 3 bulan habis terjual! Ada 100 ribu eksemplar itu! Berarti berapa? Bukunya dijual 45000/eks, aku dapet 10%. Jadi 450 jeti di tangan! Wow!
Siang itu, aku segera ke Bank, mengecek saldo tabunganku. Yes! Ada tambahan 450 jeti di rekeningku. Cool
Okey, yang pertama, aku tarik 100 juta dulu. Terpaksa lari ke loket penarikan karena kartu ATMku maish silver, paling kuat cuma narik 5 juta thok seharinya.
Penarikannya makan waktu karena aku musti nunggu berbagai prosedur, akhirnya uang 100 jetiku ada di tangan.
Hmm..pertama bayar utang!
Ke mana dulu? Hmmm...BPR, Koperasi, leasing motor...ckckckck adalah 25 juta amblas buat bayar utang (banyak ya? gimana caranya aku bisa hidup dengan utang segitu banyak? Don't know)
Abis itu, dibayar Infaq dan Zakatnya...2,5% dari penghasilan ya? Hmmm gak apa-apalah, itu udah kewajiban!
Terus terus...apalagi nih? Kan kewajiban-kewajiban sudah, jadi waktunya bersenang-senang! hihihihihi
Beli HP baru doooonggg. Gila aja, masak jaman segini masih pake hape yang gak ada kamera sama 3Gnya. Jadi musti beli Hape canggih...hmmm Communicator? Atau BB? Iphone?
Apalagi ya? Laptop? Wah dari dulu naksir Sony Viao...tapi yang Toshiba slim oke juga.
Ah iya, beli camera DLSR, handycam...hmmm kliatan ya orang kalau punya uang suka kalap....hihihihihi
Wah, bisa beli tanah nih. Di Blora dengan uang 50 juta udah bisa beli tanah...
Bisa bikin rumah....hmmmm
"Bunda!"
Waaaaaaa Naomi membangunkan aku dari khayalan2ku...duh nak, lagi mimpi enak nih
Rabu, 23 Februari 2011
Senin, 21 Februari 2011
Became Popular Novelist
Impian saya yang paling besar adalah menjadi seorang penulis, lebih spesifiknya, seorang novelis. Rasanya lihat Danielle Steel itu keren sekali. Lihat Barbara Cartland, biarpun gak terlalu doyan sama cerita-ceritanya, tetapi rasanya glamour sekali. Lihat Sidney Sheldon...wuihhhhh cool person! Terakhir, lihat J.K Rawling, makin kelepek-kelepek.
Perjuangan Rawling untuk jadi noveli beken lewat serial Harry Potter pun sungguh menakjubkan. Menulis tangan berlembar-lembar di sudut kafe hanya dengan memesan satu cangkir kopi setiap harinya, demi untuk menyelesaikan Harry Potter and The Philosoper Stones.
Dia begitu antusias, yakin dan optimis tentang calon novelnya itu. Ditolak ke sana kemari, tak punya pekerjaan, utang bertumpuk dan harus menanggung hidupnya dengan putrinya. Wow, a wonderfull fight! Gila! DIa masih tegar dan optimis di tengah keadaan dia yang sudah begitu berhimpit!
Sejujurnya, Rawlin lebih menginspirasi saya lewat kisah hidupnya dibanding serial Harry Potternya. Seorang perempuan, yang tadinya hidup lumayan dengan pekerjaannya sebagai sekertaris, janda cerai, harus menghidupi anaknya, tapi punya mimpi besar dan mau mewujudkannya. Berusaha keras mewujudkannya tepatnya. Biarpun semua orang meremehkannya, tetapi dia yakin, jika dia mau, impiannya pasti akan terwujud jika dia berusaha keras, bermuka tembok dan bersemangat.
Hasilnya sekarang bisa dilihat. Dia jadi jutawan dari hasil menulisnya pada serial Harry Potter. Dan saya sangat mengidamkan hal itu terjadi pada saya.
Muter-muter cari ide, topik apa ya yang bisa dibikin novel? Saya tidak bermimpi membuat Harry Potter yang legendaris itu. Tetapi saya cukup membuat novel secara kontinyu, paling tidak cukup membuat masalah finansial saya selesai dan kedepannya aman.
Ide di kepala banyak banget. Oh, saya tidak berharap buku saya diterbitkan oleh penerbit besar dan beken. Saya tahu diri, sebagai pemula paling-paling waktu ngirim naskah cuma jadi penghuni tong sampah!
Saya menulis satu buku, yang topiknya sederhana dengan diolah dengan istimewa (apa? Sudah kebanyakan topik hihihihih) dan itu membekas di kepala masing-masing orang. Laris, dan keuntungannya lebih cepet masuk karena pake indie publishing.
Terus kalau duit udah didapat dari kegiatan saya sebagai novelis, apa sih yang mau kulakukan? DUitnya kupake buat apa?
Yang pertama, jelas bayar utang-utang yang bertebaran dimana-mana.
Utang Banknya bapak, utang BPR juga. Utang-utang saya di warung-warung. Utang saya di beberapa teman dan tetangga (memang hidup saya gila, hutang gak jelas). Kemudian mesti dikeluarin buat zakat dan Infaq dooooongggggggggggg
Setelah itu...
Pengen beli HP baru! (HP gue jadul banget! Gak ada kamera sama bluethootnya...apalagi 3G) Pengen HP apa ya? itu loh Nokia yang Express Music, touch screen gitu...kayaknya asik. Kenapa bukan yang E63 ato E7 gitu? hehehehehe ogah! Kalau HP segede-gede gitu mending sekalian beli BB dah!
Selanjutnya...apakah saya akan beli BB? Sebenernya pengen, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa kalau fungsinya sama dengan HP? Kalau cuma biar bisa teleponan sama sms-an, ya mending beli HP biasa aja kali. Kalau biar bisa BBMan...emang beda ya sama sms atau MMSan?
Pengen apalagi? Iphone? hehehehe nah yang itu keren, bisa buat chatting juga! Cool.
Tapi yang jelas keinginan saya adalah menabung untuk biaya pendidikan masa depan Naomi dan Nadhira. ENtah dengan tabungan berjangka atau dengan deposito. Yang jelas, pendidikan masa depan mereka berdua harus terjamin, even saya sudah meninggal.
Kemudian kepengen punya rumah sendiri! Itu juga cita-cita banget. Karena pengen merasakan privacy keluarga sendiri.
Gila, mimpi2 saya ternyata banyak!
Dan rasanya sakit satu persatu belum terkabul, yang paling dekat, kepengen semua urusan utang-utang saya beres.
Ya Tuhan...Engkau tahu, aku sudah berusaha (mungkin menurutMu usahaku belum maksimal), tetapi sampai hari ini aku makin terhisap makin ke dalam oleh pasir hisap ini. Aku harus bagaimana lagi? Sedang pertolonganMu belum datang? (atau sudha datang tapi aku gak ngeh?)
Perjuangan Rawling untuk jadi noveli beken lewat serial Harry Potter pun sungguh menakjubkan. Menulis tangan berlembar-lembar di sudut kafe hanya dengan memesan satu cangkir kopi setiap harinya, demi untuk menyelesaikan Harry Potter and The Philosoper Stones.
Dia begitu antusias, yakin dan optimis tentang calon novelnya itu. Ditolak ke sana kemari, tak punya pekerjaan, utang bertumpuk dan harus menanggung hidupnya dengan putrinya. Wow, a wonderfull fight! Gila! DIa masih tegar dan optimis di tengah keadaan dia yang sudah begitu berhimpit!
Sejujurnya, Rawlin lebih menginspirasi saya lewat kisah hidupnya dibanding serial Harry Potternya. Seorang perempuan, yang tadinya hidup lumayan dengan pekerjaannya sebagai sekertaris, janda cerai, harus menghidupi anaknya, tapi punya mimpi besar dan mau mewujudkannya. Berusaha keras mewujudkannya tepatnya. Biarpun semua orang meremehkannya, tetapi dia yakin, jika dia mau, impiannya pasti akan terwujud jika dia berusaha keras, bermuka tembok dan bersemangat.
Hasilnya sekarang bisa dilihat. Dia jadi jutawan dari hasil menulisnya pada serial Harry Potter. Dan saya sangat mengidamkan hal itu terjadi pada saya.
Muter-muter cari ide, topik apa ya yang bisa dibikin novel? Saya tidak bermimpi membuat Harry Potter yang legendaris itu. Tetapi saya cukup membuat novel secara kontinyu, paling tidak cukup membuat masalah finansial saya selesai dan kedepannya aman.
Ide di kepala banyak banget. Oh, saya tidak berharap buku saya diterbitkan oleh penerbit besar dan beken. Saya tahu diri, sebagai pemula paling-paling waktu ngirim naskah cuma jadi penghuni tong sampah!
Saya menulis satu buku, yang topiknya sederhana dengan diolah dengan istimewa (apa? Sudah kebanyakan topik hihihihih) dan itu membekas di kepala masing-masing orang. Laris, dan keuntungannya lebih cepet masuk karena pake indie publishing.
Terus kalau duit udah didapat dari kegiatan saya sebagai novelis, apa sih yang mau kulakukan? DUitnya kupake buat apa?
Yang pertama, jelas bayar utang-utang yang bertebaran dimana-mana.
Utang Banknya bapak, utang BPR juga. Utang-utang saya di warung-warung. Utang saya di beberapa teman dan tetangga (memang hidup saya gila, hutang gak jelas). Kemudian mesti dikeluarin buat zakat dan Infaq dooooongggggggggggg
Setelah itu...
Pengen beli HP baru! (HP gue jadul banget! Gak ada kamera sama bluethootnya...apalagi 3G) Pengen HP apa ya? itu loh Nokia yang Express Music, touch screen gitu...kayaknya asik. Kenapa bukan yang E63 ato E7 gitu? hehehehehe ogah! Kalau HP segede-gede gitu mending sekalian beli BB dah!
Selanjutnya...apakah saya akan beli BB? Sebenernya pengen, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa kalau fungsinya sama dengan HP? Kalau cuma biar bisa teleponan sama sms-an, ya mending beli HP biasa aja kali. Kalau biar bisa BBMan...emang beda ya sama sms atau MMSan?
Pengen apalagi? Iphone? hehehehe nah yang itu keren, bisa buat chatting juga! Cool.
Tapi yang jelas keinginan saya adalah menabung untuk biaya pendidikan masa depan Naomi dan Nadhira. ENtah dengan tabungan berjangka atau dengan deposito. Yang jelas, pendidikan masa depan mereka berdua harus terjamin, even saya sudah meninggal.
Kemudian kepengen punya rumah sendiri! Itu juga cita-cita banget. Karena pengen merasakan privacy keluarga sendiri.
Gila, mimpi2 saya ternyata banyak!
Dan rasanya sakit satu persatu belum terkabul, yang paling dekat, kepengen semua urusan utang-utang saya beres.
Ya Tuhan...Engkau tahu, aku sudah berusaha (mungkin menurutMu usahaku belum maksimal), tetapi sampai hari ini aku makin terhisap makin ke dalam oleh pasir hisap ini. Aku harus bagaimana lagi? Sedang pertolonganMu belum datang? (atau sudha datang tapi aku gak ngeh?)
Si Pemimpi dan Pasir Hisap
I'm currently drowning in quicksand slowly waiting to drown and die. I move, wanting to get out of this sand. But it is getting pulled sinking sand. How do I get out of this suction pair? I'm looking for a strong small twigs that could help me slowly get out of this quicksand. And while looking for the stick, I'm imagining. Imagining that one day I will come out of all these troubles, smiled and continued to live without constant fear of stepping and sinking in the sand.
Persoalan ini semakin lama semakin menghimpitku, dan tidak seorang pun yang dapat menolongku. Mereka semua angkat tangan, karena sudah berusaha menolongku. Dan saat ini aku sendiri, even they are my parents, mu hubby or my close family members.
Padahal yang kulakukan hanya ingin bisa membantu mereka semua. Dan ketika aku sudah terjebak begini, aku pun lonely.
Desperate?
Maybe
Sad?
Indeed
Want To Cry?
My tears have run out to cry over this
Tetapi live must go on!
Biar saja kalau memang aku harus menanggungnya sendiri. Karena mungkin ini adalah hal yang diberikan Allah kepadaku untuk hidup. InsyaAllah aku ihklas Lillahita'ala
Sekarang...Let's dreaming! Biar semua beban ini hilang dengan bermimpi, dengan berkhayal!
Sakitkah bermimpi itu?
Ya! Ketika sadar, rasanya menyesakkan
Tetapi ketika berusaha bergerak membuatku makin sesak dalam pasir hisap, apalagi yang harus kulakukan?
Just a dreaming! I am a dreamer!
Ciehhh bahasa gue gaul banget gak tuh? Pasir Hisap! yes, I was being drowned there! Benar-benar gak bisa bernapas saat ini.aku saat ini tenggelam di pasir hisap yang perlahan-lahan menunggu untuk tenggelam dan mati. aku bergerak, ingin keluar dari pasir ini. Tetapi pasir ini semakin menarikku tenggelam. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari pair hisap ini? Aku mencari ranting kecil yang kuat yang bisa membantuku pelan-pelan keluar dari pasir hisap ini. Dan sambil mencari ranting itu, aku sedang berkhayal. Berkhayal bahwa suatu saat aku akan keluar dari segala masalahku ini, tersenyum dan melanjutkan hidup tanpa harus selalu takut melangkah dan tenggelam di pasir ini.
Persoalan ini semakin lama semakin menghimpitku, dan tidak seorang pun yang dapat menolongku. Mereka semua angkat tangan, karena sudah berusaha menolongku. Dan saat ini aku sendiri, even they are my parents, mu hubby or my close family members.
Padahal yang kulakukan hanya ingin bisa membantu mereka semua. Dan ketika aku sudah terjebak begini, aku pun lonely.
Desperate?
Maybe
Sad?
Indeed
Want To Cry?
My tears have run out to cry over this
Tetapi live must go on!
Biar saja kalau memang aku harus menanggungnya sendiri. Karena mungkin ini adalah hal yang diberikan Allah kepadaku untuk hidup. InsyaAllah aku ihklas Lillahita'ala
Sekarang...Let's dreaming! Biar semua beban ini hilang dengan bermimpi, dengan berkhayal!
Sakitkah bermimpi itu?
Ya! Ketika sadar, rasanya menyesakkan
Tetapi ketika berusaha bergerak membuatku makin sesak dalam pasir hisap, apalagi yang harus kulakukan?
Just a dreaming! I am a dreamer!
Langganan:
Postingan (Atom)